Minggu, 13 Februari 2011

Dialog Para Dokter bersama Syaikh Utsaimin (1): Macam-Macam Penyakit dan Obatnya

Pengantar dari Moderator (dokter):

بسم الله الرحمن الرحيم

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada penghulu para rosul, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan atas keluarga serta para shahabatnya. Kami memuji Allah, kami memuji Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita dengan agama yang paling mulia dan millah (ajaran) yang terhormat, dan telah mengutus kepada kita Rosul-Nya yang paling mulia dan makhluk-Nya yang paling utama sebagai pemberi keterangan, petunjuk dan pengajaran. Agama yang paling agung ini dia tidaklah meninggalkan perkara yang kecil maupun yang besar dalam permasalahan dunia kita, kecuali pasti telah menunjukkan kepada hal-hal yang terbaik dan telah melarang kita dari perkara-perkara yang buruk.

Agama yang hak ini, yang menghargai (mengagungkan) kedudukan amal-amal shalih baik yang bersifat keagamaan atau keduniaan. Dan menjadikan amal shalih tersebut sebagai kewajiban yang pertama dari insan muslim terhadap dirinya sendiri, agama dan masyarakatnya.

Saudara-saudara dan saudari-saudari di jalan Allah, bukanlah hal yang asing bagi Anda sekalian bahwa profesi dokter berada di garis depan amalan-amalan yang mulia (agung), hal itu (menjadi kenyataan) apabila niat diikhlaskan untuk Allah dan menjadikan (meletakkan) maslahat kaum muslimin, pengobatan mereka dan meringankan rasa sakit mereka di urutan pertama. Amal kemanusiaan yang amat penting ini, tidaklah dibiarkan begitu saja oleh aturan agama yang hanif ini tanpa adanya kaidah-kaidah/aturan-aturan dan akhlak. Kondisi semacam ini berlaku juga dalam setiap amal dan profesi. Sampai-sampai sebelum adanya campur tangan dari organisasi-organisasi kesehatan untuk membuat aturan-aturan dan program-programnya.

Maka syariat ini telah membuat aturan-aturan penting bagi setiap orang yang menunaikan pekerjaan-pekerjaan, yang ditujukan untuk kepentingan orang lain, yaitu berupa;Takut Kepada Allah, ikhlas serta amanah dalam setiap amalan yang mereka kerjakan, dan melaksanakannya sesuai dengan kemampuan mereka untuk mewujudkan pekerjaan yang telah dilimpahkan kepada mereka dengan bentuk yang paling sempurna sehingga Allah ‘Azza wa Jalla ridha.


Saudara sekalian, hari ini kita berbahagia dengan kehadiran orang yang mulia dan agung, tamu yang mulia __mudah-mudahan Allah memberinya umur panjang untuk berkhidmad (berbakti) kepada Agama Allah dan perbaikan masyarakatnya__, seseorang yang senantiasa mendakwahi saudara-saudaranya muslimin sesuai dengan ilmu dan kepahaman yang telah diberikan Allah kepadanya, untuk menuju jalan kebenaran dan kebaikan, Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin..__mudah-mudahan Allah memanjangkan umurnya__


Syaikh menyela: Untuk beramal shalih!


dokter: Dan mengaruniakan kesehatan yang sempurna dan kebahagiaan di dunia dan akhirat


Syaikh berkata (sambil menunduk): aamiin


dokter: Asy-Syaikh al-Utsaimin adalah anggota Majelis Ulama-ulama Besar.......


Syaikh: Cukup, cukup, cukup (....Syaikh menyela)


dokter: Semoga Allah memberimu keselamatan, saya tau kata-kata saya membuat Anda tidak
tenang, tapi teman-teman saya ingin mengenal Anda lebih jauh.

Syaikh: Tidak perlu

dokter: Mudah-mudahan Allah memberkahi Anda

Syaikh: cukup

dokter: Semoga Allah membalas usaha Anda, dan saya tau Anda mengharap pahala dari Allah. Dan dalam menunggu-nunggu (nasehat Anda), sama sekali tidak akan merasa tergesa-gesa atau merasa sempit (bosan), baik saya pribadi atau teman-teman yang lain. Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada Anda dan membalas usaha Anda. Dan Mudah-mudahan Allah memberi manfaat kepada kami melalui ilmu Anda yang luas.

Syaikh: Mudah-mudahan juga bagi orang yang mengucapkannya dan mendengarnya

dokter: Silahkan

Syaikh:...........

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yg diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada menyesatkannya,dan barangsiapa yg disesatkan Allah maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk.
Keraskan (speakernya)!, (Syaikh berkata kepada panitia)
aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yg berhaq diibadahi kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mudah-mudahan Allah mencurahkan shalawat kepadanya dan kepada keluarga serta shahabat-shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat..

Keraskan suara (speakernya) ! (Syaikh berkata kepada panitia) Tidak mungkin digabungkan antara suara yang lemah dengan penerangan yang lemah, karena hal itu akan menyebabkan tidur, pasti!

Keraskan suara (speakernya) !

Amma Ba’du,

Saudara-saudara sekalian, saya bersyukur kepada Allah ‘azza wa Jalla yang telah memudahkan acara pertemuan dengan saudara-saudara sekalian, para dokter sekalian. Pada malam ini, yaitu malam Selasa tanggal 14 Jumadil Akhir 1421 H, pertemuan ini __yang saya mohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menjadikannya pertemuan yang diberkahi. Kami akan berbincang-bincang tentang apa yang dikehendaki Allah ‘Azza wa jalla seputar tema ini, kemudian kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Adapun tema yang ingin kami sampaikan dan kami mohon mudah-mudahan Allah memberi kebenaran, maka aku katakan:

Penyakit itu saudara-saudara, ada dua macam:

  • -Penyakit hati, dan ini yang merupakan penyakit bersifat maknawi (batin/nonfisik)

  • -dan yang kedua, penyakit yang berada (menyerang) di badan dan ini yang merupakan penyakit fisik.

Jenis yang pertama harus lebih mendapat perhatian dan penanganan, karena penyakit ini mengakibatkan kebinasaan abadi atau kehidupan abadi. Penyakit hati ada dua macam:

yang pertama, kebodohan (ketidaktauan)

Banyak manusia mencintai kebaikan dan berusaha mendapatkannya, tapi dia bodoh. Akhirnya timbullah kesalahan yang fatal. Oleh karena itu, Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: “Para ahli ibadah yang rusak dari kalangan kita (muslimin) memiliki kemiripan dengan orang-orang Nasrani”, karena orang-orang Nasrani menghendaki kebaikan, akan tetapi mereka tersesat.Sabagaimana disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ

Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah.

Berkata Sufyan: “Para ulama yang rusak dari kalangan kita (muslimin) memiliki kemiripan dengan orang-orna Yahudi”, karena orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi mereka menyelisihinya. Dalam perkara ini, berkisarnya penyakit hati. Dari sini kita mengetahui bahwa kewajiban kita adalah memiliki ilmu dan tunduk serta menerima syariat Islam. Karena kalau tidak, akan berakibat kerusakan (hati). Kerusakan ini tidak seperti kerusakan badan. Rusaknya badan berarti kembalinya badan kepada kondisi awal penciptaan.

مِنۡہَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ وَفِيہَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡہَا نُخۡرِجُكُمۡ

“Dari bumi [tanah] itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu………”QS.Toha:55

Tetapi rusaknya hati maknanya adalah hilangnya kehidupan, musnahnya kehidupan (yang hakiki)! Karena manusia tidak akan bisa mengambil manfaat dari kaberadaannya di dunia, dia merugi dalam kehidupan dunia. Dan dia juga tidak akan bisa mengambil manfaat untuk kehidupan akhiratnya! Lalu apakah sesungguhnya kehidupan yang hakiki itu? Pertanyaan!Jawablah! (Syaikh bertanya kepada hadirin)…..kehidupan akhirat! Berdasarkan firman Allah tabaraka wata’ala

وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ لَهِىَ ٱلۡحَيَوَانُ‌ۚ

“Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan…”QS.al-’Ankabut: 64,

Para ulama mengatakan bahwa al-hayawaan artinya adalah kehidupan yang sempurna! Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَذَڪَّرُ ٱلۡإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ (٢٣) يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِى (٢٤)

“dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (23) Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan [amal saleh] untuk hidupku ini”.” QS. al-Fajr:22-23

Oleh karena itu, kewajiban manusia adalah untuk berusaha menyembuhkan penyakit hatinya sebelum penyakit-penyakit lainnya. Tapi, dari mana kita mengambil obat untuk penyakit hati ini?

Obat untuk penyakit hati ini adalah berasal dari dua sumber asasi (pokok), yaitu al-Kitab wa as-Sunnah. Al-Kitab, alhamdulillah, telah disifati oleh Allah ta’ala bahwa dia merupakan penjelas dari segala sesuatu. Tiada satu perkara pun yang dibutuhkan umat manusia dalam kehidupan mereka baik kehidupan dunia maupun akhirat kecuali pasti terdapat di dalam al-Qur’an. Terkadang hal itu terdapat dalam al-Qur’an secara jelas atau terkadang dalam bentuk isyarat kepada hal tersebut. Dan (penjelasannya) dialihkan ke tempat lain. Kita tahu di dalam al-Qur’an tidak terdapat (keterangan) jumlah rakaat-rakaat shalat, tidak pula jumlah shalat, nishab-nishab zakat, tidak pula amalan-amaln haji yang sudah ma’ruf, tapi (penjelasan itu) dialihkan kepada as-Sunnah.


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman
وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُ‌ۚ
“Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui…” (QS.an-Nisa:113)

Inilah dia (al-Qur’an) obat untuk penyakit berbahaya yang telah saya sebutkan tadi. Dan hal ini sangatlah mudah bagi orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Maksudnya, terdapat beberapa hal yang harus diketahui umat manusia, dan hal-hal tersebut mudah. Mereka bisa mengambilnya dari perkataan-perkataan para ulama, atau dari buku-buku karangan para ulama yang terpercaya, sehingga dia bisa mengambil petunjuk darinya.

Adapun jenis penyakit kedua adalah penyakit fisik yang ada (menyerang) di badan, penyakit jasmani, organ-organ tubuh, atau kulit, dan penyakit-penyakit yang saudara sekalian lebih tau dari saya. Obat dari penyakit ini ada dua:

Pertama, obat yang bermanfaat, lengkap dan luas (kuat) yaitu  obat yang telah disebutkan oleh syariat. Syariat Islam telah membawa obat ini, obat syar’i untuk badan. Insya Allah saya akan menyebutkan suatu hal untuk memperjelas masalah ini. Misal:
al-Qur’an al-Karim adalah obat yang sangat bermanfaat dan manjur untuk penyakit fisik, mental (kejiwaan) dan penyakit-penyakit akal yang tidak bisa disembuhkan dengan obat-obat yang bersifat fisik. Kemudian obat syar’i ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Kerena obat syar’i ini dari siapa? Jawab: dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla, yang apabila menghendaki sesuatu maka tinggal Dia mengatakan kun fayakun.
Barangkali saudara-saudara pernah mendengar kisah para shahabat yang meminta untuk dijamu sebagai tamu oleh suatu kaum dari kalangan Arab, tapi kaum tersebut menolak mereka, kemudian mereka pun menyingkir, sementara Allah mengutus kalajengking untuk menyengat kepala suku kaum tersebut. Dan sengatan kalajengking itu pun membuatnya sangat kesakitan. Akhirnya mereka pun berunding, “barangkali di antara orang-orang yang tadi singgah ke tempat kita ada yang bisa meruqyah.” Maka datanglah kaum itu kepada para shahabat seraya berkata bahwa kepala suku mereka tersengat kalajengking, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah?” Para shahabat berkata, “Ya, tapi kami tidak mau meruqyah kecuali apabila dibayar dengan beberapa ekor kambing, karena kalian tidak memberikan hak kami sebagai tamu.” Mereka berkata, “Baiklah, kami memenuhi permintaan kalian.” Maka diberikanlah beberapa ekor kambing, maka berangkatlah seorang shahabat kepada orang yang tersengat itu, kemudian dibacakan surat al-Fatihah
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ  sampai selesai.

Maka bangkitlah orang yang tersengat itu seakan-akan baru terbebas dari ikatan yang sangat kuat saat itu juga.

Kasus seperti ini apabila diobati dengan obat-obatan yang bersifat fisik, kalau pun berpengaruh, akan tetapi membutuhkan waktu. Sedangkan obat syar’i ini langsung (berpengaruh). Penyakit-penyakit kejiwaan ini, sering merepotkan para dokter, apabila mereka mengobatinya dengan obat-obatan yang bersifat fisik, tapi bila diobati dengan ruqyah, maka (pengaruhnya) sangat manjur dan bermanfaat. Demikian juga penyakit-penyakit akal.

Obat-obat syar’i memberikan hasil (nyata) bagi penyakit-penyakit tersebut, sedangkan obat-obatan fisik terkadang tidak menampakkan hasil. Oleh karena itu, saya ingin saudara-saudara sekalian memperhatikan hal ini.

Terlebih, apabila saudara-saudara bisa menggabungkan antara dua macam obat ini, maka hal itu sangat baik, yaitu obat yang bersifat fisik dan obat-obat syar’i. Sehingga Anda mengarahkan hati para pasien supaya bergantung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan ayat-ayatNya.

Dalam kesempatan ini, saya sarankan saudara-saudara untuk (membaca dan menelaah) buku-buku yang ditulis dalam masalah ini. Saudara-saudara baca, hafalkan, dan anjurkanlah para pasien untuk membacanya. Karena ketergantungan para pasien kepada Allah ‘Azza wa Jalla memberi pengaruh yang kuat dalam menghilangkan atau meringankan penyakit (yang dideritanya).

Kedua, obat-obatan yang bersifat fisik yang sudah ma’ruf, obat-obatan ini ada dua macam:

Pertama, obat-obatan yang didapatkan manusia melalui jalan syariat,
Kedua, obat-obatan yang diperoleh manusia melalui jalan uji coba (pengalaman)

Di antara (obat-obat) yang diperoleh melalui jalan syariat (adalah) berobat dengan menggunakan madu. Obat ini adalah obat syar'i. Dalilnya ada firman Allah ta'ala:

يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ۬ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٲنُهُ ۥ فِيهِ شِفَآءٌ۬ لِّلنَّاسِ‌ۗ
“Dari perut lebah itu keluar minuman [madu] yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (QS.An-Nahl: 69)

Di antaranya (yang lain): habatus sauda.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“innaha syifaa u min kulli daa in illasy syaam, ya’ni al-maut”
“Dia adalah obat bagi semua penyakit kecuali asy syaam (kematian).”

Dan di antara obat-obat syar’i adalah kam’ah (cendawan/gamus), berasal dari kayu-kayu yang sudah rapuh. Tentang kam’ah ini, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“al_kam-atu minal manna wa maa uha syifaa u lil ‘ain”
“Cendawan itu termasuk manna (anugerah Allah), dan air (perasan)nya adalah obat untuk (sakit) mata.”

Hal ini semua adalah perkara yang bisa diterima, wajib bagi kita untuk mengimaninya. Taruhlah, seandainya tidak (kelihatan) pengaruhnya, maka hal itu bukan karena kekurangan sebab (obat itu), melainkan karena adanya penghalang yang menghalangi untuk bisa mengambil manfaat dari oba-obatan tersebut. Maksudnya, sebab-sebab (kesembuhan) yang disebutkan oleh syariat kadang-kadang tidak mendatangkan hasil karena adanya penghalang.

Tapi intinya, obat-obatan ini adalah (obat-obatan) yang bisa diterima (diakui). Adapun jenis kedua dari obat-obatan yang bersifat fisik adalah (obat-obatan yang) diperoleh dari uji coba (pengalaman). Jenis (obat-obatan) ini banyak, bahkan sekarang muncul obat-obatan yang berasal dari orang-orang yang tidak belajar teori kedokteran. Mereka mengambil dari pengalaman, tapi obat-obatan merekalebih baik dibandingkan obat-obat steril yang diolah secara higienis. Kita tidak boleh mengingkari kenyataan ini, tidak boleh!

Banyak kita dengar dari media informasi tentang penemuan-penemuan obat yang berhasil dari tanaman-tanaman dan rerumputan yang belum pernah dibuat sebelumnya, dan (ternyata) pengaruhnya lebih kuat dari obat-obatan yang ada. Semua ini (tentunya) dari takdir dari Allah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa:

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali pasti akan menurunkkan pula obatnya. Akan tahu orang yang mengetahuinya dan tidak tahu orang yang tidak mengetahuinya.”

Oleh karena itu, kadang-kadang kesembuhan dari penyakit tertentu bisa diperoleh dengan menggunakan obat yang tidak biasa digunakan untuk mengobati penyakit tersebut. Hal ini terjadi secara tiba-tiba, (kejadian) semacam ini termasuk dalam sabda beliau: “….tidak tahu orang-orang yang tidak mengetahuinya.” Tapi yakinlah, bahwa hal ini terjadi dengan takdir dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Dialah yang menurunkan (penyakit) itu dan juga telah menurunkan obatnya. Dan terkadang Dia menghilangkan penyakit itu dengan tanpa sebab apapun juga. Karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bersambung....

Dikutip dari blog syababpetarukan
Simak Video Dialog ini disini

0 komentar:

Posting Komentar

SEO Stats powered by MyPagerank.Net Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net